Minggu, 16 November 2014
Jumat, 11 Juli 2014
Oh Perasaan
Entah apa lagi yang harus aku lakukan untuk merubah semua rasa ini, mengalihkannya, atau bila perlu membuangnya sejauh mungkin. Perpisahan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. menjauh demi untuk kebaikan bersama adalah tujuan dari keputusan itu. Kenyataannya, aku terluka dengan keputusan itu. Bagaimana mungkin setelah 4 tahun perjalanan bersama, suka duka, dan amarah aku bagi dengannya. Sahabat yang paling ok. Janji persahabatan tinggallah janji.
Aku baru menyadari perasaan ini ketika perpisahan itu sudah di depan mata. Bagaimana mungkin aku menghalanginya??? Bagaimana mungkin aku memintanya untuk tetap bersamaku??? Bagaimana mungkin aku bisa melakukan semua itu????
Semua kebahagiaan yang telah dilalui bersama tidak mungkin bisa aku lupakan. Perlahan tetap akan aku buang rasa ini... rasa yang tidak seharusnya ada, tidak sepantasnya ada,
Ramadahan kali ini akan berlalu tanpa adanya kehangatan persahabatan seperti biasanya!!!
Aku baru menyadari perasaan ini ketika perpisahan itu sudah di depan mata. Bagaimana mungkin aku menghalanginya??? Bagaimana mungkin aku memintanya untuk tetap bersamaku??? Bagaimana mungkin aku bisa melakukan semua itu????
Semua kebahagiaan yang telah dilalui bersama tidak mungkin bisa aku lupakan. Perlahan tetap akan aku buang rasa ini... rasa yang tidak seharusnya ada, tidak sepantasnya ada,
Ramadahan kali ini akan berlalu tanpa adanya kehangatan persahabatan seperti biasanya!!!
SEANDAINYA
Allah......
tidak ada yang dapat aku lakukans elain hanya doa untuk keluarga Islam yang sedang teraniaya di Palestina.
Mengapa ini harus terjadi???
Mengapa kaum-kaum Yahudi itu harus menghancurkan Islam dengan sangat keji.
Allah....
Kuatkanlah mereka di sana. Beri mereka kekuatan dan ketabahan.
Terimalah kepulangan menreka dengan Syahid....
Allahhuakkabar.....
tidak ada yang dapat aku lakukans elain hanya doa untuk keluarga Islam yang sedang teraniaya di Palestina.
Mengapa ini harus terjadi???
Mengapa kaum-kaum Yahudi itu harus menghancurkan Islam dengan sangat keji.
Allah....
Kuatkanlah mereka di sana. Beri mereka kekuatan dan ketabahan.
Terimalah kepulangan menreka dengan Syahid....
Allahhuakkabar.....
Kamis, 10 Juli 2014
lamanya.....
kurang lebih 2 tahun blogger ini tidak hera buka,,,, sampai-sampai lupa kodenya apa.....
alhamdulillah hari ini bis alagi.... ternyata aku masih bisa berteman dengannya melalui blogger ini.... biarlah ini menjadi rahasia dunia maya..hehehhhehhehe
alhamdulillah hari ini bis alagi.... ternyata aku masih bisa berteman dengannya melalui blogger ini.... biarlah ini menjadi rahasia dunia maya..hehehhhehhehe
Kamis, 20 Juni 2013
RELASI
MAKNA (ANTONIMI DAN OPOSISI)
Chaer
(2007: 299) menjelaskan “Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara
dua bauh satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau
kontras antara yang satu dengan yang lain”. Chaer
(2009:88) menjelaskan bahwa antonim berarti nama lain untuk benda lain pula.
Disimpulkan daari asal kata antonimi yaitu anoma yang artinya nama dan inti
yang artinya melawan kata-kata ini berasal dari bahasa Yunani kuno. Verhaar dan Chaer (2009:89) mendefinisikan
antonim sebagai berikut:
Ungkapan (biasanya berupa kata,
tetapi dapat pula dalam bentuk frase atau kalimat)
yang maknanya dianggap kebalikan dari makna
ungkapan lain. Misalnya dengan kata bagus adalah berantonimi dengan kata buruk;
kata besar adalah berantonimi dengan kata kecil; dan kata membeli berantonimi
dengan kata menjual. Hubungan makna antara dua buah kata yang berantonim
bersifat dua arah.
Aminuddin (1985:122) menjelaskan
bahwa antonim adalah kata-kata yang maknanya bertentangan. Kridalaksana
(2008:17) antonim adalah leksem yang berpasangan secara antonimi. Antonimi
adalah oposisi makna dalam pasangan leksikal yang dapat dijenjangkan, misalnya
dalam tinggi: rendah ‘tidak tinggi’ tidak berarti ‘rendah’. Hubungan makna
antara dua buah kata yang berantonim bersifat dua arah.
Parera
(2004:71) menjelaskan bahwa pertentangan adalah hubungan yang menyangkut dua
benda yang dapat ditempatkan dalam beberapa posisi atau keadaan sebagai
berikut: (1) dua benda itu dapat dihubungkan dengan satu garis lurus yang
ditarik dari satu ke yang lain; (2)dua benda itu terletak pada ujung dari
sebuah aksis atau diameter, atau sejenisnya; (3) dua benda itu bersambung,
tetapi letaknya berhadapan; (4) dau benda itu berhadapan ; jarak antara tidak
menjadi akibat; (5) mereka berpisah atau bercerai satu dari yang lain; (6)
mereka bekerja saling berlawanan; (7) mereka tidak dapat berada bersama-sama
karena mereka bertentangan; (8) mereka menunjukkan dua muka yang berbalikan.
Secara logikal, antonim dibedakan atas kontardiksi dan kontrer. Dua makna
dikatakan berkontadiksi atau berada dalam posisi kontradiksi ialah dua makna
yangs aling mengucilkan dan menolak kemunculannya bersama-sama dalam satu
proposisi atau kalimat pernyataan; jika yang satu benar, maka yang lain salah.
Dua kata atau proposisi dikatakan dalam posisi kontrer jika dua kata atau
proposisi itu tidak mungkin sama-sama
benar, tetapi ada kemungkinan keduanya salah. Leech dalam Parera (2004: 73)
membedakan pertentangan kontrer menjadi dua yaitu: (1) pertentangan makna
beranting dan (2) pertentangan makna polaris.
Antonim terdapat pada semua tataran
bahasa: tataran morfem, kata, frase dan kalimat. Tetapi tidak mudah mencari
contohnya dalam setiap bahasa. Chaer (2010:89) menjelaskan bahwaa dalam bahasa
Indonesia untuk tataran morfem (terikat) barangkali tidak ada; tetapi dalam
bahasa Inggris ada, contohnya: thankful
dengan thankless, ful dan less berantonim;
antara progresif dengan regresif, pro dan re- berantonim;
juga antara bilingual dengan monolingual,
bi dan mono berantonim.
Tarigan (2009: 30) menjelaskan bahwa antonim terdiri atas anti atau ant yang berarti “lawan” ditambah akar kata onim atau anuma yang berarti “nama”, maka antonim adalah kata yang mengandung makna yang berkebalikan atau berlawanan dengan kata lain. Dalam buku-buku pelajaran bahasa Indonesia, antonim biasanya diartikan sebagai lawan kata. Banyak orang yang tidak setuju dengan hal ini, sebab pada hakikatnya yang berlawanan bukan kata-kata itu, melainkan makna dari kata-kata itu yang berlawanan. Maka, mereka yang tidak setuju dengan istilah lawan kata menggunakan istilah lawan makna.
Pateda (2001: 206) menjelaskan makna
harfiah dari antonimi adalah nama lain untuk benda yang laian. Verhaar dalam
Pateda (2001:207) menjelaskan “Antonim adalah ungkapan (biasanya kata, tetapi
dapat juga frasa atau kalimta) yang dianggap bermakna kebalikan dari ungkapan
lain”.
Verhaar dalam Padeta (2001: 208)
menbedakan antonim berdasarkan sistem sebagai berikut:
1. Antonim antarkalimat, misalnya dia sakit dan dia tidak sakit.
2. Antonim antarfrasa, misalnya secara
teratur dan secara tidak teratur.
3. Antonim antrakata, misalnya makan dan minum.
Faizah
(2010: 74) menjelaskan bahwa antonim adalah relasi antarkata yang bertentangan
atau berkebalikan maknya. Istilah antonim digunakan untuk oposisi makna dalam
pasangan leksikal bertaraf, seperti panas
dengan dingin. Antonim ini disebut
bertaraf karena antara panas dengan dingin masih ada kata-kata lain seperti hangat, dan suam-suam kuku. Oposisi makna dalam pasangan pasangan leksikal
tidak bertaraf yang maknanya bertentangan disebut oposisi komplementer, seperti
jantan dan betina. Relasi antarkaraada juga yang maknanya berkebalikan,
seperti kata suami denga istri “Jika Tina istri Tono, berarti Tono suami Tini”.
Antonim sama halnya dengan sinonim
tidak bersifat mutlak. sehubungan dengan itu banyak pula yang menyebutnya
oposisi makan. Dengan istilah oposisi, maka tercakup dari konsep yang
betul-betul berlawanan sampai kepada yang hanya bersifat kontras saja. Berdasarkan sifatnya oposisi dapat dibedakan
menjadi:
1.
Oposisi Mutlak
Pada
Oposisi mutlak terdapat pertentangan makna secara mutlak, yaitu maknanya benar-benar
bertentangan dan sudah mutlak tidak dapat diubah lagi. Cotohnya, kata hidup dan mati. Antara hidup dan mati terdapat batas yang mutlak, sebab
sesuatu yang hidup tidak (belum) mati; sedangkan sesuatu yang mati tentu sudah
tidak hidup lagi.
2.
Oposisi Kutub
Makna
kata-kata yang termasuk oposisi kutub ini pertentangannya tidak bersifat
mutlak, melainkan bersifat gradasi. Artinya terdapat tingkat-tingkat makna pada
kata-kata tersebut. Contohnya, kata kaya
dan miskin adalah dua kata yang
beroposisi kutub. Pertentangannya tidak mutlak. Orang yang tidak kaya belum tentu merasa muskin, dan begitu juga dengan orang
yang miskin belum tentu merasa tidak kaya. Itu sebabnya kata-kata yang
beroposisi kutub ini bersifat relatif, sukar ditentukan batsnya yang mutlak.
Bisa juga dikatakan batasnya bergeser, tidak tetap pada suatu titik. Kalau
didiagramkan keadaan tersebut menjadi sebagai berikut:
Kutub
A
kaya
----------------------------------------------------------batas
miskin
Kutub
B
Kata-kata
yang beroposisi kutub pada umumnya adalah kata-kata dari kelas adjektif, seperti
jauh-dekat, pajang-pendek, tinggi-rendah, terang-gelap, dan luas-sempit.
3.
Oposisi Hubungan
Makna
kata-kata yang beroposisi hubungan (relasional) bersifat saling melengkapi.
Kehadiran kata yang satu karena ada kata yang lain yang menjadi oposisinya.
Tanpa kehadiran keduanya maka oposisi ini tidak ada. Contohnya, kata menjual beroposisi dengan kata membeli. Kata menjual dan membeli
walaupun maknanya berlawakan, tetapi proses kejadiannya berlangsung serempak.
Proses menjual dan proses membeli terjadi pada waktu yang
bersamaan, sehingga bisa dikatakan tidak akan ada proses menjual jika tidak ada proses membeli.
4.
Oposisi Hierarkial
Makna
kat-kata yang beroposisi hierarkial menyatakan suatu deret jenjang atau
tingkatan. Oleh karena itu kata-kata yang beroposisi hierarkial ini adalah
kata-kata yang berupa danam satuan ukuran (berat,pajnag, dan isi), nama satuan
hitung dan penanggalan, nama jenjang kepangkatan, dan sebagainya. Contohnya,
kata meter beroposisi hierarkial
dengan kata kilometer karena berada
dalam deretan nama satuan yang menyatakan ukuran panjang. Kata kuintal dan ton beroposisi secara hierarkial karena keduanya berada dalam
satuan ukuran yang menyatakan berat.
5.
Oposisi Majemuk
Dalam
perbendaharaan kata Indonesia ada kata-kata yang beroposisi terhadap lebih dari
sebuah kata. Contohnya, kata berdiri bisa beroposisi dengan kata duduk, dengan kata berbaring, dengan kata berjongkok.
Keadaan seperti ini lazim disebut dengan istilah oposisi majemuk.
duduk
berbaring
berdiri tiarap
berbaring
berdiri tiarap
berjongkok
Fromkim
dkk dalam Tarigan (2009: 36) menjelaskan bahwa sebenarnya antomin yang beraneka
ragam dapat diklasifikasikan atas beberapa pasangan sebagai berikut:
1. Pasangan Komplementer
Pasangan
komplementer yaitu pasangan yang saling melengkapi, di mana yang satu tidaklah
lengkap atau tidak sempurna bila tidak dibarengi oleh yang satu lagi. Contoh:
kata hidup berantonim dengan kata mati. Pasangan antonim hidup-mati terasa saling melengkapi satu
sama lain. Makna kata hidup lebih tepat bila dipertentangkan dengan kata mati.
Apabila kata A dapat digantikan dengan kata bukan /tidak A sebagai lawannya,
maka kedua kata itu disebut berantonim.
2.
Pasangan Perbandingan (gradabel)
Suatu
antonim disebut pasangan gradabel apabila penegatifan suatu kata tidaklah
bersinonim dengan kata yang yang lain. Contoh: seseorang yang tidak senang tidak perlu atau belum
tentu sedih.
Satu
hal yang perlu diperhatikan dan juga dianggap benar mengenai antonim yang
merupakan pasangan gradabel ini ialah kelebihan sesuatu merupakan kekurangan
yang lainnya. Contoh:
Lebih
besar adalah kurang
kecil
Lebih
tinggi adalah kurang
rendah
Ciri
lain sejumlah pasangan antonim gradabel ialah yang satu berciri atau bertanda
(marked) dan yang satu lagi tidak berciri atau tidak bertanda (ummarked).
Anggota pasangan yang tidak berciri atau tidak bertanda itu biasanya dipakai
dalam pertanyaan-pertanyaan yang ada hubungannya dengan kadar atau tingkat
(degree). Contoh:
Berapa
tingginya? bukan Berapa
rendahnya?
Berapa
jauhnya? Bukan Berapa
dekatnya?
3.
Pasangan Relasional
Ada
pula sejenis antonim yang memperlihatkan kesinambungan makna anggota
pasangannya. Antonim yang sseperti itu disebut antonim relasional, karena
antara anggota pasangan antonim itu terdapat hubungan yang erat. Contoh: kalau
si A adalah guru si B, maka si B adalah murid si A.
Guru
– Murid
Pengajar
– Pelajar
4.
Pasangan Resiprokal
Ada
pula sejenis antonim yang mengandung pasangan yang berlawanan atau bertentangan
dalam makna tetapi juga secara fungsional berhubungan erat; hubungan itu justru
hubungan timbal balik. Antonim seperti itu disebut antonim resiprokal.
Contohnya: membeli – menjual. Kedua kata ini berlawanan maknanya tetapi
secara fungsional berhubungan erat secara timbal balik.
5.
Pasangan Hiponim
Ada
sejenis antonim yang agak istimewa, yang sering dipakai dan memang penting
dalam nomenklatur (tatanama) ilmiah dan analisis semantik, yang disebut
hiponim. Dalam hiponim ini, sebenarnya salah satu dari pasangan kata itu
tidaklah berlawanan atau bertentangan sepenuhnya dengan yang satu lagi, tetapi
justru yang satu mencakup yang lain. Contoh:
Vertebrata mencakup
ikan, reptil (binatang melata)
Universitas mencakup
fakultas, departemen, jurusan
Sastra mencakup
puisi, prosa, drama
DAFTAR RUJUKAN
Aminuddin. 1988. Semantik Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung:
C.V. Sinar Baru.
Chaer, Abdul. 2002. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia.
Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Faizah, Hasnah. 2010. Linguistik Umum. Pekanbaru: Cendikia
Insani.
Padeta, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.Parera,J.D. 2004. Teori Semantik. Jakarta:
Erlangga.
Sartuni, Rasjid dkk. 1987. Bahasa
Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Nina Dinamika.
Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Semantik. Bandung: Angkasa.
Varhaar. 1992. Pengantar Linguistik.Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Senin, 18 Juni 2012
PERMAISURI HATIKU
Di antara kekasih pilihan dihati
Punyai budi penghias diri
Wajahnya lembut biasan pekerti yang tinggi
Indahnya perhiasan dunia
Diantara diriku jua diri-mu
Hanya mengharapkan cinta yang Satu
Ku kan binakan mahligai impian-mu
Oh.. sayang ikhlaskanlah hati-mu
Malu-mu bernilai
Kata-mu berhikmah
Hati-mu tulus suci dan murni
Hanya diri yang halal
Engkau serahkan segala
Untuk mencari redha Allah
Benarlah cinta buta melalaikan
Tanpa memikirkan batas syariatnya
Semuanya itu hanya ujian didunia
Ia adalah mahar untuk kita ke syurga
Oh? Kau Permaisuri di hati-ku
Di dunia ini engkau penghibur
Menjunjung kasih amanah Ilahi
Ku pasti akan terus menyayangi
Terima kasih ucapan ku beri
Kau hadiahkan ku cahaya hati
Ku pimpin tangan-mu oh kasih meniti hari
Semoga kita dapat bersama
Sampai kepada-Nya disyurga sana
Tuhan kekalkanlah
Permaisuri hati ku
Untuk menemani dalam mengapai cinta-Mu
Punyai budi penghias diri
Wajahnya lembut biasan pekerti yang tinggi
Indahnya perhiasan dunia
Diantara diriku jua diri-mu
Hanya mengharapkan cinta yang Satu
Ku kan binakan mahligai impian-mu
Oh.. sayang ikhlaskanlah hati-mu
Malu-mu bernilai
Kata-mu berhikmah
Hati-mu tulus suci dan murni
Hanya diri yang halal
Engkau serahkan segala
Untuk mencari redha Allah
Benarlah cinta buta melalaikan
Tanpa memikirkan batas syariatnya
Semuanya itu hanya ujian didunia
Ia adalah mahar untuk kita ke syurga
Oh? Kau Permaisuri di hati-ku
Di dunia ini engkau penghibur
Menjunjung kasih amanah Ilahi
Ku pasti akan terus menyayangi
Terima kasih ucapan ku beri
Kau hadiahkan ku cahaya hati
Ku pimpin tangan-mu oh kasih meniti hari
Semoga kita dapat bersama
Sampai kepada-Nya disyurga sana
Tuhan kekalkanlah
Permaisuri hati ku
Untuk menemani dalam mengapai cinta-Mu
DEBU-DEBU DOSA
Kearah mana halanya
Bagi Insan yang terleka
Mengejar nikmat dunia
Bagaikan hidup selamanya
Tak peduli dosa noda
Seksa azab neraka
Hidup jauh dari rahmat-Nya
Terpedaya pada dunia
Pentas ciptaan manusia
Terlupa pada segala
Mengikut nafsu semata
Membiar sayitan beraja
Di hati dan juga jiwa
Mengejar dunia penuh debu dosa
Teguhkanlah iman dan diri
Moga dikau akan merasai
Betapa indah nikmat Illahi
Dan yakin kau akan dirahmati
Harus kau percaya dengan pasti
Dunia tidak kekal abadi
Hanya menguji cekalnya hati
Sebagai khalifah yang sejati
Tak perlu kau meragui
Andai teguh keimananmu
Pasti bahagia menanti
Di akhirat yang abadi
Bagi Insan yang terleka
Mengejar nikmat dunia
Bagaikan hidup selamanya
Tak peduli dosa noda
Seksa azab neraka
Hidup jauh dari rahmat-Nya
Terpedaya pada dunia
Pentas ciptaan manusia
Terlupa pada segala
Mengikut nafsu semata
Membiar sayitan beraja
Di hati dan juga jiwa
Mengejar dunia penuh debu dosa
Teguhkanlah iman dan diri
Moga dikau akan merasai
Betapa indah nikmat Illahi
Dan yakin kau akan dirahmati
Harus kau percaya dengan pasti
Dunia tidak kekal abadi
Hanya menguji cekalnya hati
Sebagai khalifah yang sejati
Tak perlu kau meragui
Andai teguh keimananmu
Pasti bahagia menanti
Di akhirat yang abadi
Sabtu, 09 Juni 2012
BUKAN SANG HAKIM
BUKAN SANG
HAKIM
Semalam terasa
indah bersamanya
Suasana damai
penuh ceriua….
Saling berbagi
kisah kenangan dunia..
Namun kini
Hari-hari
berjalan terasa berat
Ada
ketersiksaan didalam dada
Pertemuan bagai
beban derita
Sulit untuk
terlukiskan oleh kata
Karena perasaan
yang bicara
Yang bicara
Melihat wajahnya
Mendengar suaranya
Tersebut namanya
Benci…
Bukalah mata
hari
Bukan mata
benci
Kita bukanlah
sang hakim
Yang layak
untuk menghukum
Kita juga
pernah tersalah dan bersalah
Bencilah sekedarnya
Maafkanlah kekhilafannya
Walau
Melihat wajahnya
Mendengar suaranya
Tersebut namanya
Benci…
Kita bukanlah
manusia sempurna
Janganlah merasa
seolah tanpa noda
Kita hanya
manusia yang penuh khilaf salah
Maafkanlah ia
bila hatimu terluka
Karena kita
bukan sang hakim
MAKALAH
MAKALAH
PENULISAN DAFTAR PUSTAKA DALAM KARYA TULIS MAHASISWA FKIP BAHASA INDONESIA
4B UIR
DISUSUN OLEH :
JULIANA. S
106210404
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
BAHASA INDONESIA
UNIVERSITAS
ISLAM RIAU
PEKANBARU
2012
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur saya ucapkan atas nikamat yang telah Allah Swt. berikan kepada saya.
Sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Karena saya menyadari sekali,
tanpa izin dan nikmat dari-Nya saya tidak mungkin dapat menyelesaikan makalah
ini. Dan solawat beriring salam kepada ruh junjungan Nabi besar Muhammad Saw.
Karena usaha dan perjuangan beliau kita semua dapat menikmati indahnya iman dan
perkembangan ilmu dan teknologi seperti yang kita rasakan saat ini.
Terimakasih
yang setulus-tulusnya saya ucapkan kepada bapak Mangatur Sinaga selaku dosen
pembimbing mata kuliah Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia dikelas 4B
FKIP Bahasa Indoensia, UIR. Atas
penjelasan yang begitu mudah dipahami yang bapak ajarkan kepada kami, saya
merasa sangat terbantu dalam menulis makalah ini. Semoga bapak selalu dalam
lindungan Allah Swt. Dan dilimpahkan kebahagiaan. Amin.
Dan
tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada rekan-rekan yang telah sudi membantu
saya dalam menyelesaikan makalah ini. Baik secara materi maupun non materi.
Semoga kebaikan rekan-rekan dibalas berlipat ganda oleh Allah Swt. Amin.
BAB. I PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Dalam
suatu pembuatan karya tulis baik berupa makalah, skripsi, tugas akhir, laporan,
tesis, disertasi ataupun karya tulis ilmiah lainnya, daftar pustaka memiliki
posisi yang penting dalam bagian
penulisan tersebut. Pemilihan daftar pustaka ini harus benar – benar sesuai
denganpokok permasalahan yang dibahas dalam makalah. Sebab daftar pustaka akan
sangat membantu kita untuk mengetahui keterangan – keterangan yang lengkap
mengenai bahan yang kita gunakan sebagai acuan dalam penulisan karya ilmiah
yang kita buat.
Daftar
pustaka adalah suatu daftar yang berisi semua sumber bacaan yang digunakan sebagai bahan acuan
dalam penulisan karya ilmiah. Dalam KBBI ( 2008 : 248 ) daftar pustaka adalah
daftar yang mencantumkan judul buku, nama pengarang, penerbit dan sebagainya
yang ditempatkan pada bagian akhir suatu karangan atau buku, dan disusun
menurut abjad.
Mengingat
arti penting dari bagian karya ilmiah
yang satu ini, maka mahasiswa, dosen, siswa maupun masyarakat umum lainnya
perlu mengetahui cara dan teknik penulisan daftar pustaka yang baik dan benar.
Dengan beberapa komponen dalam teknik penulisan daftar pustaka yaitu : nama
penulis, tahun terbit, judul buku, tempat terbit, nama penerbit. Karena
keingintahuan saya tentang mampu atau tidaknya mahasiswa FKIP, UIR kelas 4B Bahasa Indonesia dalam menuliskan
daftar pustaka pada setiap karya ilmiah, maka saya mengangkat judul “ Penulisan
Daftar Pustaka dalam Karya Tulis Mahasiswa Bahasa Indonesia 4B UIR “ dalam makalah saya. Akan saya bahas semampu saya mengenai daftar
pustaka dalam makalah ini.
1.2
Identifikasi
Masalah
Ada beberapa masalah
mengenai daftar pustaka yaitu :
1. Bagaimana
cara menuliskan daftar pustaka berdasarkan rujukan?
2. Bagaimana
cara menyusun daftar pustaka yang bersumber dari buku ?
3. Bagaimana
cara menuliskan nama penulis berdasarkan jumlah penulisnya?
4. Apa
saja unsur – unsur daftar pustaka?
5. Bagaimana
penggunaan tanda koma ( , ), titik ( . ), dan titik dua ( : ) dalam daftar
pustaka?
6. Apa
manfaat daftar pustaka?
1.3
Rumusan
Masalah
Dari
identifikasi masalah yang telah dikemukakan
sebelumnya, masalah yang akan saya bahas dalam makalah ini yaitu :
1. Bagaimana
cara menyusun daftar pustaka yang bersumber dari buku?
2. Bagaimana
cara menuliskan nama penulis bersadarkan jumlah penulisnya?
1.4
Tujuan
Makalah
ini bertujuan untuk memaparkan bagaimana cara menuliskan daftar pustaka yang
baik dan benar, serta bagaimana menuliskan nama penulis berdasarkan jumlah
penulisnya.
1.5
Manfaat
Manfaat
dari makalah ini adalah sebagai media pembelajaran untuk semua pembaca makalah
ini, khususnya mahasiswa kelas 4B FKIP Bahasa Indonesia, UIR mengenai
penyususnan daftar putaka.
BAB II. TINJAUAN TEORITIS
2.1 Penyusunan Daftar Pustaka Bersumber dari Buku
Untuk penulisan daftar pustaka yang
banyak harus berurutan penulisannya. Nama dari sumber yang diambil sebagai
daftar putaka ditulis berdasarkan urutan Abjad dari nama masing-masing
tersebut, dimulai dengan Abjad A-Z itulah urutan penulisan daftar
pustaka yang baik yaitu sesuai dengan urutan nama-namanya.
Buku adalah sumber utama penulisan
buku lainnya. Buku sering digunakan sebagai rujukan penulisan bagi penulis yang
berbeda. Ini diperkenankan karena ilmu memang berkembang dan berubah-ubah. Ilmu
berkembang untuk menuju penyempurnaan teori atau konsep. Jika sumber tulisan
dari buku, penulisan daftar pustaka diurutkan sebagai berikut:
Nama penulis[titik] spasi tahun
terbit[titik] spasi judul buku[digaris bawahi pada setiap kata kalau tulis
tangan dan cetak miring kalau menggunakan komputer kemudian titik] spasi kota
penerbit[titik dua] spasi nama penerbit [titik].
2.2
Penulisan
Nama Penulis
Bagi
penulis yang menggunakan marga/keluarga, nama marga/keluarganya ditulis
terlebih dahulu, sedangkan untuk penulis yang tidak menggunakan nama
marga/keluarga, diawali dengan penulisan nama akhir/belakang kecuali nama cina.
Gelar kesarjanaan penulis tidak perlu dicantumkan dalam daftar pustaka.
1.
Buku ditulis satu orang
Dimulai
dari nama belakang lalu beri (tanda koma) dan dilanjutkan dengan nama depan(tanda
titik). Penulisan nama untuk awal menggunakan huruf besar terlebih dahulu.
Contoh :
Wahyudi, Johan. 2010. Menjadi
Cerpenis. Solo: Tiga
Serangkai Pustaka Mandiri.
2. Buku
ditulis dua orang
Tulis
nama belakang dari penulis yang pertama setelah nama belakang beri (tanda koma)
lalu tulis nama depan jika nama depan berupa singkatan tulis saja singkatan itu
setelah nama pertama selesai beri (dan atau tanda &) untuk nama kedua ditulis sama seperti nama asli tidak ada
perubahan, yang berubah penulisannya hanya orang pertama sedangkan orang kedua
tetap. Contoh :
Alwi,
Hasan dan Dendy Sugono. 2003. Politik Bahasa. Jakarta: Pusat Bahasa.
3. Buku
ditulis tiga orang atau lebih
Jika sebuah buku ditulis tiga orang
atau lebih, hanya penulis utama yang ditulis dengan diikuti dkk (dan
kawan-kawan). Penulis utama adalah penulis yang letak namanya berada di kiri
atau atas susunan penulis. Contoh :
Wahyudi, dkk. 2009. Panduan
Menjadi Juara. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
BAB III. PEMBAHASAN
3.1 Bisa karena Biasa
Seperti yang telah diutarakan dalam tinjauan
teoritis bahwa daftar pustaka terdiri dari nama penulis, tahun terbitnya buku,
judul buku, tempat terbit, dan penerbit buku. Semua data-data ini tersusun
dengan sistematis sesuai aturan penulisan daftar pustaka pada bagian akhir
sebuah karya tulis. Dari hasil penelitian yang saya lakukan dengan menyebarkan
angket kepada mahasiswa semester 4 FKIP Bahasa Indonesia, UIR ternyata masih banyak yang belum mampu
menyusun daftar pustaka dengan baik dan benar. Yang paling saya utamakan adalah
cara menyusun data-data yang sudah saya sediakan. Dalam mengurutkannya saja
ternyata masih banyak yang belum bisa, apalagi penggunaan tanda bacanya, dari
semua angket yang sebar tidak ada satupun yang benar dalam menggunakan tanda
baca untuk sebuah daftar pustaka.
Tampak jelas bahwa mahasiswa sekarang jarang membuat
sebuah karya tulis. Mengapa saya katakan demikian? Karena jika seorang
mahasiswa sering membuat karya tulis, dia akan mampu menyusun sebuah daftar
pustaka. Sebab semua karya tulis harus memiliki daftar pustaka, sebagai suatu
bagian yang sangat penting untuk membuktikan kebenaran sumber yang dijadikan
acuan dalam membuat sebuah karya tulis.
Sebenarnya jika seorang mahasiswa membiasakan diri
untuk menyusun sebuah karya tulis, maka dia juga akan terbiasa menyusun daftar
pustaka. Dengan kebiasaan baik ini, seseorang akan dapat menyusun daftar
pustaka dengan baik dan benar. Maka saya tekankan dalam karya tulis ini, bahwa
seseorang bisa karena membiasakan diri untuk melakukan hal tersebut. Dan
seharusnya sebagai mahasiswa kiat juga harus sering melakukan hal ini.
3.2
Pemahaman
yang Kurang
Untuk menuliskan nama pengarang dalam sebuah daftar
pustaka dibutuhkan pengetahuan. Sebab tanpa pengetahuan yang tepat seseorang
akan salah dalam menuliskan nama pengarang. Seperti yang telah saya bahas
diatas, bahwa untuk menuliskan nama pengarang namanya dibalik. Pengarang buku
bisa saja tidak hanya satu orang, melainkan dua atau bahkan lebih. Jika kita
tidak memahami cara penulisan nama pengarang berdasarkan jumlah pengarangnya,
maka daftar pustaka yang kita susun akan salah.
Berdasarkan peneliatian saya, tampak jelas bahwa
hampir semua mahasiswa 4B FKIP Bahasa Indonesia, UIR salah dalam menuliskan
nama pengarang. Mengapa bisa salah? Ya, karena tidak adanya pemahaman tentang
penulisan nama pengarang dalam sebuah daftar pustaka yang jelas-jelas sudah ada
aturannya tersendiri. Dan menurut saya, yang paling sulit bagi mahasiswa adalah menuliskan nama pengarang yang lebih
dari dua orang. Karena tidak ada satupun yang benar dalam menuliskan nama
pengarang yang berjumlah lebih dari dua orang. Padahal dalam menuliskan nama
pengarang ini sangat mudah sekali, nama pengarang pertama dibalik namanya,
untuk pengarang kedua dan ketiga tidak perlu dicantumkan cukup diberi tanda
“dkk”. Dan untuk pengarang yang jumlahnya dua orang hanya nama pertama yang
dibalik namanya, untuk nama kedua ditulis sebagaimana nama aslinya dengan
memberi kata “dan” atau tanda & antara nama pertama dan
nama kedua. Dan penulisan nama yang pengarangnya hanya satu orang saja cukup
dengan membalik namanya. Karena kurangnya pengetahuan dari mahasiswa inilah
sehingga hampir seluruhnya salah dalam menuliskan nama pengarang berdasarkan
jumlah pengarangnya. Maka dari itu, pengetahuan sangat penting sekali.
BAB IV. SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
Berdasarkan dari penelitian yang saya lakukan pada
mahasiswa 4B FKIP Bahasa Indonesia, UIR, masih banyak sekali mahasiswa yang
belum paham tentang daftar pustaka. Dan sebagai seorang mahasiswa ini sangat
disayangkan sekali. Hal ini bisa saja terjadi karang mengertinya mahasiswa
tentang manfaat dari daftar pustaka. Dan juga kurang pedulinya mahasiswa
terhadap sebuah karya tulis yang baik dan benar.
4.2 Saran
Saya
menyarankan rekan-rekan 4B FKIP Bahasa Indonesia, UIR untuk belajar memahami
daftar pustaka dengan lebih giat lagi. Karena setiap karya tulis yang
rekan-rekan tulis sangat memerlukan daftar pustaka sebagai bukti rujukan yang
rekan-rekan gunakan. Dan untuk menyusun skripsi nanti, daftar pustakaa adalah
komponen yang sangat penting juga.
DAFTAR PUSTAKA
Faisal, Rahman.
2009. Cara Menulis Daftar Pustaka. http://faisal14.wordpress.com/2009/03/02/cara-menulis-daftar-pustaka, 21 Mei 2012.
Wahyudi, Johan.
2011. Bagaimanakah Menulis Daftar Pustaka yang Benar?. http://media.kompasiana.com/buku/2011/01/22/bagaimanakah-menulis-daftar-pustaka-yang-benar, 21 Mei 2012.
NAMA : NPM
:
Susunlah daftar pustaka berdasarkan data-data
berikut ini :
1.
Imron Ali (penulis) 1995 (tahun
terbit) Pembinaan Guru di Indonesia (judul buku)Jakarta (tempat terbit)Pustaka
Jaya (penerbit)
2.
Tengku Ramly Amir & Erlin Trisyulianti (penulis) 2006 (tahun terbit)Pumping Teacher (judul
buku)Jakarta (tempat terbit)Kawan Pustaka (penerbit)
3.
Sri Hastuti, Teti Putri &
Yuli Andriani (penulis) 2010 (tahun terbit) Menggenggam Bintang (judul buku)
Medan (kota terbit) Horas (penerbit)
NAMA : NPM
:
Susunlah daftar pustaka berdasarkan data-data
berikut ini :
1.
Imron Ali (penulis) 1995 (tahun
terbit) Pembinaan Guru di Indonesia (judul buku)Jakarta (tempat terbit)Pustaka
Jaya (penerbit)
2.
Tengku Ramly Amir & Erlin Trisyulianti (penulis) 2006 (tahun terbit)Pumping Teacher (judul
buku)Jakarta (tempat terbit)Kawan Pustaka (penerbit)
3.
Sri Hastuti, Teti Putri &
Yuli Andriani (penulis) 2010 (tahun terbit) Menggenggam Bintang (judul buku)
Medan (kota terbit) Horas (penerbit)
NAMA : NPM
:
Susunlah daftar pustaka berdasarkan data-data
berikut ini :
1.
Imron Ali (penulis) 1995 (tahun
terbit) Pembinaan Guru di Indonesia (judul buku)Jakarta (tempat terbit)Pustaka
Jaya (penerbit)
2.
Tengku Ramly Amir & Erlin Trisyulianti (penulis) 2006 (tahun terbit)Pumping Teacher (judul
buku)Jakarta (tempat terbit)Kawan Pustaka (penerbit)
3.
Sri Hastuti, Teti Putri &
Yuli Andriani (penulis) 2010 (tahun terbit) Menggenggam Bintang (judul buku)
Medan (kota terbit) Horas (penerbit)
Langganan:
Postingan (Atom)